Nama:
Nikita
Nim:
11901067
Kelas:
PAI 4C
Laporan Baca Magang 1
“Karakteristik Peserta Didik”
Pengertian
Karakteristik Peserta Didik
Seorang guru dalam proses perencanaan
pembelajaran perlu memahami tentang karakteristik peserta didik. Peserta didik
adalah individu yang sedang berkembang. Artinya, peserta didik mengalami
perubahan-perubahan dalam dirinya. Perubahan tersebut ada yang diarahkan ke
dalam diri sendiri, ada juga berupa penyesuaian diri terhadap lingkungan. Perkembangan
peserta didik merupakan bagian dari pengkajian atau penerapan psikologi
perkembangan dalam bidang pendidikan. Pada bagian ini akan diuraikan
aspek-aspek perkembangan peserta didik sebagai individu yang berada pada tahap
usia sekolah menengah. Peserta didik pada usia sekolah menengah, sebagai
individu yang sedang tumbuh dan berkembang, memerlukan pendidikan, bimbingan
dan pengarahan yang tepat untuk mencapai tingkat perkembangan yang optimal
sesuai dengan bakat dan minatnya. Karakteristik peserta didik yang dibahas pada
bagian ini khusus yang berkaitan dengan aspek fisik, intelektual,
sosial-emosional, moral, spritual dan latar belakang sosial budaya.
Karakteristik peserta
didik yang berkaitan dengan aspek fisik
Tugas perkembangan adalah berbagai ciri
perkembangan yang diharapkan timbul serta dimiliki setiap individu pada setiap
masa dalam periode perkembangannya. Tugas perkembangan difokuskan pada upaya
peningkatan sikap dan perilaku peserta didik serta berusaha untuk mencapai
kemampuan bersikap dan berperilaku sesuai fasenya. Peserta didik yang berada
pada usia remaja, dimana ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik hormonal yang
memunculkan rasa ketertarikan pada lawan jenis.
Ada perubahan-perubahan yang bersifat
universal pada masa remaja, yaitu meningginya emosi yang intensitasnya
bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikis, perubahan tubuh, perubahan
minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial tertentu untuk
dimainkannya yang kemudian menimbulkan masalah, berubahnya minat, perilaku, dan
nilai-nilai, bersikap mendua (ambivalen) terhadap perubahan. Perubahan-perubahan
tersebut akhirnya berdampak pada perkembangan fisik, kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
Kemampuan psikomotorik berkaitan dengan
keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang
memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak. Untuk jenjang pendidikan SMK/SMA,
mata pelajaran yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah
pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, seni budaya, fisika, kimia,
biologi, dan keterampilan. Dengan kata lain, kegiatan belajar yang banyak
berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di aula/lapangan dan
praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada ranah
kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila dibandingkan dengan ranah
psikomotor. Perkembangan psikomotorik yang dilalui oleh peserta didik SMK/SMA
memiliki kekhususan yang antara lain ditandai dengan perubahan[1]perubahan
ukuran tubuh, ciri kelamin yang primer dan sekunder. Perubahan[1]perubahan
tersebut dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu percepatan pertumbuhan
dan proses kematangan seksual yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Perubahan- perubahan
yang dialami peserta didik mempengaruhi perkembangan tingkah laku yang
ditampakkan pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri, isolasi
diri dan pergaulan, perilaku emosional, imitasi berlebihan, dan lain-lain. Masa
remaja merupakan salah satu diantara dua masa rentangan kehidupan individu,
dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat.
Karakteristik peserta
didik yang berkaitan dengan aspek intelektual
Kemampuan kognitif peserta didik akan terus
berkembang selama masa pendidikan bahkan setelah selesai sekolah pun
pengembangan kognitif masih memungkinkan untuk dilanjutkan. Akan tetapi belum
tentu semua perubahan kognitif mengarah pada peningkatan kemampuan intelektual.
Kadang-kadang ada kemampuan kognitif yang mengalami kemerosotan seiring dengan
pertambahan usia.
Perkembangan kognitif pada usia remaja
sampai dengan masa dewasa awal, dikemukakan oleh Schaie (1997). Salah satu contoh,
pada masa dewasa awal terdapat perubahan dari mencari pengetahuan menuju penerapan
ilmu pengetahuan. Menerapkan pengetahuan yang sudah diketahui, khususnya dalam
hal penentuan karier dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pernikahan dan
hidup berkeluarga. Perkembangan kognitif menurut Piaget, artinya dimana masa
remaja sudah mencapai tahap operasi formal (operasi = kegiatan-kegiatan mental
tentang berbagai gagasan). Berlainan dengan cara berpikir anak-anak yang
tekanannya kepada kesadaran diri sendiri, cara berpikir remaja berkaitan dengan
dunia kemungkinan. Remaja mampu menggunakan abstraksi dan mampu membedakan yang
nyata dan konkrit. Kemampuan untuk menguji hipotesis dan bernalar secara
ilmiah. Remaja mampu memikirkan tentang masa depan dengan membuat perencanaan
dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan untuk mencapainya. Remaja sudah
menyadari tentang aktivitas kognitif dan mekanisme yang membuat proses kognitif
tersebut lebih efisien. Melakukan introspeksi (pengujian diri) menjadi bagian
kehidupan sehari[1]hari.
Berpikir operasi formal memungkinkan terbukanya topik-topik baru dan ekspansi
berpikir. Itu akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan
keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi
Pendidikan tentang “Hakekat Belajar”. Ketika dia mengikuti pendidikan dan pelatihan
“Strategi Belajar Mengajar”, maka pengetahuan, sikap dan keterampilannya
tentang “Hakekat Belajar” akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dengan
mengikuti pendidikan dan pelatihan “Strategi Belajar Mengajar”.
Karakteristik peserta
didik yang berkaitan dengan aspek emosional
Masa remaja merupakan puncak
perkembangan emosionalitas (menyentuh perasaan), yaitu perkembangan emosi yang
tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama organ seksual mempengaruhi perkembangan
emosi dan dorongan baru yang dialami sebelumnya seperti perasaan cinta. Pada
usia remaja awal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan
reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa, emosinya bersifat negatif
dan temperamental. Sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya.
Mencapai kematangan emosional merupakan
tugas perkembangan yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaian kematangan
emosi dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama
lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya. Pada masa ini, tingkat
karakteristik emosional akan menjadi drastis tingkat kecepatannya.
Gejala-gejala emosional para remaja seperti perasaan sayang, marah, takut,
bangga dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu
dicermati dan dipahami dengan baik.
Pendidik perlu mengetahui setiap aspek
yang berhubungan dengan perubahan pola tingkah laku dalam perkembangan remaja,
serta memahami aspek atau gejala tersebut sehingga dapat melakukan komunikasi
yang baik dengan remaja.
Karakteristik peserta
didik yang berkaitan dengan aspek moral
Perkembangan moral remaja sesuai dengan
tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berpikir operasional
formal, kemampuan berpikir abstrak, dan memecahkan masalah-masalah yang
bersifat hipotesis. Pemikiran remaja tidak lagi hanya terikat pada waktu,
tempat, dan situasi, tetapi juga pada sumber moral yang menjadi dasar hidup
mereka (Gunarsa,1988). Artinya perkembangan moral pada masa remaja sudah
berpikir operasional formal, dimana mereka berpikir abstrak dan menyelesaikan
masalah-masalah yang sudah bersifat hipotesis.
Perkembangan pemikiran moral remaja
dicirikan dengan tumbuhnya kesadaran akan kewajiban dalam mempertahankan
kekuasaan dan pranata yang ada karena dianggap sebagai suatu yang bernilai,
walaupun belum mampu mempertanggung jawabkan. Perkembangan moral remaja yang
demikian, menurut Kohlberg sudah mencapai tahap konvensional. Pada akhir masa
remaja seseorang akan memasuki tahap perkembangan pemikiran moral yang disebut
tahap pascakonvensional, di mana orisinilitas pemikiran moral remaja sudah semakin
jelas. Pemikiran moral remaja berkembang sebagai pendirian pribadi yang tidak
tergantung lagi pada pendapat atau pranata yang bersifat konvensional.
Melalui pengalaman atau interaksi sosial
dengan orang tua, guru, teman sebaya atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas
remaja semakin matang dibandingkan dengan usia anak. Mereka sudah lebih
mengenal tentang nilai-nilai moral atau konsep-konsep moralitas seperti
kejujuran, keadilan, kesopanan, dan kedisiplinan. Pada masa ini muncul dorongan
untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik oleh orang lain.
Remaja berperilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasan fisiknya, tetapi juga
psikologisnya (rasa puas dengan adanya penerimaan dan penilaian positif dari
orang lain tentang perbuatannya).
Karakteristik peserta
didik yang berkaitan dengan aspek spritual
Kata spiritual berasal dari bahasa
Inggris yaitu ‘spirituality’ yang kata dasarnya ‘spirit’ yang berarti ruh,
jiwa, semangat. Kata ‘spirit’ berasal dari bahasa latin ‘spiritus’ yang berarti
luas atau dalam, keteguhan hati atau keyakinan, energy atau semangat. Spiritualitas
adalah kesadaran tentang diri dan individu, asal, tujuan, dan nasib, sedangkan
religius merupakan serangkaian produk atau hasil perilaku tertentu yang
dihubungkan dengan kepercayaan yang dinyatakan.
Beberapa Karakteristik tersebut antara
lain:
-
Kecenderungan sikap bimbang, antara keinginan menyendiri dengan keinginan
bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan
dan bantuan dari orangtua.
-
Senang membandingkan kaedah-kaedah, nilai-nilai etika atau norma dengan
kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa.
-
Mulai mempertanyakan secara tidak yakin akan keberadaan dan sifat kebaikan dan
keadilan Tuhan.
-
Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
-
Memiliki sikap dan perilaku beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Karakteristik peserta
didik yang berkaitan dengan aspek sosial-budaya
Peserta didik kemungkinan berasal dari
beragam budaya, etnis dan ras karena itu dapat terjadi proses akulturasi. Untuk
menangani peserta didik yang beragam tersebut guru perlu memilih strategi
pembelajaran yang sesuai dengan beragam kebutuhan peserta didik, latar belakang
atau etnik dan memastikan kurikulum adil dan relevan secara kultural. Guru
harus peka terhadap perbedaan budaya yang dapat mempengaruhi suasana
pembelajaran dikelas. Beberapa karakteristik peserta didik yang perlu
diidentifikasi berkaitan dengan kelas sosial, antara lain pekerjaan,
penghasilan, kekuasaan politis, dan lain-lain. Beberapa contoh efek dari
perbedaan kelas sosial yaitu, pengelompokan berdasarkan kelas sosial, ini
cenderung akan mempengaruhi psikis peserta didik yang kelas sosialnya rendah
sehingga dapat terjadi perbedaan prestasi antara kelas sosial tinggi dengan
kelas sosial rendah. Pada masa remaja berkembang ”social cognition”, yaitu
kemampuan untuk memahami orang lain. Remaja memahami orang lain sebagai
individu yang unik, baik menyangkut sifat pribadi, minat, nilai-nilai, maupun
perasaannya.
Pada masa ini juga berkembang sikap
”conformity”, yaitu kecenderungan untuk menyerah atau megikuti opini, pendapat,
nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman sebaya). Apabila
kelompok teman sebaya yang diikuti menampilkan sikap dan perilaku yang secara
moral dan agama dapat dipertanggungjawabkan maka kemungkinan besar remaja
tersebut akan menampilkan pribadinya yang baik. Sebaliknya, apabila kelompoknya
itu menampilkan sikap dan perilaku yang melecehkan nilai-nilai moral maka
sangat dimungkinkan remaja akan melakukan perilaku seperti kelompok tersebut. Pada
usia anak remaja terjadi perkembangan sosial yaitu kemampuan untuk memahami
orang lain. Anak usia remaja memahami orang lain sebagai individu yang unik dan
baik menyangkut sifat pribadi, minat, nilai-nilai maupun perasaannya. Pemahaman
ini mendorong mereka untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrab dengan
orang lain (terutama teman sebaya), baik melalui jalinan persahabatan maupun
percintaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar