Nama:
Nikita
Nim:
11901067
Kelas:
PAI 4C
Mata
Kuliah: Magang 1
“Manajemen Sekolah”
A. Pengertian
Manajemen Sekolah
Dalam
konteks pendidikan, memang masih ditemukan pertentangan dan ketidakserasian dalam
penggunaan istilah manajemen ini. Di satu pihak ada yang tetap cenderung
menggunakan istilah manajemen, sehingga dikenal dengan istilah manajemen
pendidikan. Di lain pihak, tidak sedikit pula yang menggunakan istilah
administrasi sehingga dikenal istilah adminitrasi pendidikan.
Dari
Kathryn. M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan
Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa:
“Manajemen adalah proses
untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi
utama yaitu merencanakan (planning),
mengorganisasi (organizing), memimpin
(leading), dan mengendalikan (controlling). Artinya yaitu manajemen
merupakan proses untuk tercapainya suatu tujuan dalam kegiatan atau organisasi.
Dengan demikian, manajemen adalah sebuah kegiatan yang berkesinambungan”.
Sedangkan
dari Stoner sebagaimana dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa:
“Manajemen adalah
proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha
para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”. Maksudnya adalah manajemen
ini merupakan suatu usaha para anggota organisasi agar tercapainya tujuan yang
telah ditetapkan.
Sementara
itu, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa “administrasi pendidikan sebagai
rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama
sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang
diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan
formal”. Artinya yaitu administrasi pendidikan merupakan kegiatan yang
menyangkup seluruh usaha kerjasama para anggota organisasi untuk mencapai
tujuan pendidikan secara sistematis. Meski ditemukan pengertian manajemen atau
administrasi yang beragam, baik yang bersifat umum maupun khusus tentang
kependidikan, namun secara esensial dapat ditarik secara singkat tentang
pengertian manajemen pendidikan, bahwa : (1) manajemen pendidikan merupakan
suatu kegiatan; (2) manajemen pendidikan memanfaatkan berbagai sumber daya; dan
(3) manajemen pendidikan berupaya untuk mencapai tujuan tertentu.
B. Fungsi
Manajemen
Dikemukakan di atas
bahwa manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan. Kegiatan dimaksud adalah
tindakan-tindakan atau suatu proses para anggota organisasi yang mengacu kepada
fungsi-fungsi manajamen. Berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen ini, H.
Siagian (1977) mengungkapkan pandangan dari beberapa ahli, sebagai berikut:
Menurut G.R. Terry terdapat empat fungsi manajemen, yaitu: 1) planning (perencanaan), 2) organizing (pengorganisasian), 3) actuating (pelaksanaan), dan 4) controlling (pengawasan). Sedangkan
menurut Henry Fayol terdapat lima fungsi manajemen, meliputi: 1) planning (perencanaan), 2) organizing (pengorganisasian), 3) commanding (pengaturan), 4) coordinating (pengkoordinasian), dan 5) controlling (pengawasan). Sementara itu,
Harold Koontz dan Cyril O’ Donnel mengemukakan lima fungsi manajemen, mencakup:
1) planning (perencanaan), 2) organizing (pengorganisasian), 3) staffing (penentuan staf), 4) directing (pengarahan), dan 5) controlling (pengawasan). Selanjutnya,
L. Gullick mengemukakan tujuh fungsi manajemen, yaitu: 1) planning (perencanaan), 2) organizing
(pengorganisasian), 3) staffing (penentuan
staf), 4) directing (pengarahan), 5) coordinating (pengkoordinasian), 6) reporting (pelaporan), dan 7) budgeting (penganggaran).
1.
Perencanaan (planning)
Perencanaan merupakan
kegiatan untuk menetapkan sebuah tujuan yang akan dicapai beserta cara-cara
untuk mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko
(1995) mengemukakan bahwa: “ Perencanaan (planning)
adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi,
kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.” Artinya perencanaan adalah penetapan
rencana yang memberikan kejelasan arah bagi setiap kegiatan, sehingga setiap
kegiatan dapat diusahakan dan dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T.
Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan sebagai berikut:
(a) membantu manajemen
untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan.
(b) membantu dalam
kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama
(c) memungkinkan
manajer memahami keseluruhan gambaran
(d) membantu penempatan
tanggung jawab lebih tepat
(e) memberikan cara
pemberian perintah untuk beroperasi
(f) memudahkan dalam
melakukan koordinasi di antara bagian organisasi
(g) membuat tujuan
lebih khusus, terperinci, dan lebih mudah dipahami
(h) meminimumkan pekerjaan
yang tidak pasti
(i) menghemat waktu,
usaha, dan dana.
Indriyo Gito Sudarmo
dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam perencanaan,
yaitu :
a. Penentuan tujuan
dengan memenuhi persyaratan yang ada.
b. Pendefinisian
gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber
daya alam, dan sumber daya modal.
c. Merumuskan kegiatan
yang akan dilaksanakan secara jelas dan tegas. Hal senada dikemukakan pula oleh
T. Hani Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu: (a)
menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan, (b) merumuskan keadaan saat ini, (c)
mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan, (d) mengembangkan rencana atau
serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.
Pada bagian lain,
Indriyo Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan bahwa atas dasar
luasnya cakupan masalah serta jangkauan yang terkandung dalam suatu
perencanaan, maka perencanaan dapat dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu: (1)
rencana global yang merupakan penentuan tujuan secara menyeluruh dan jangka
panjang, (2) rencana strategis yang merupakan rencana yang disusun guna
menentukan tujuan-tujuan kegiatan atau tugas yang mempunyai arti strategis dan
mempunyai dimensi jangka panjang, dan (3) rencana operasional yang merupakan
rencana kegiatan-kegiatan yang berjangka pendek guna menopang pencapaian tujuan
jangka panjang, baik dalam perencanaan global maupun perencanaan strategis.
2.
Pengorganisasian (organizing)
George R. Terry (1986)
mengemukakan bahwa: “Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan
hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, sehingga mereka
dapat bekerja sama secara efisien, dan memperoleh kepuasan pribadi dalam
melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna
mencapai tujuan atau sasaran tertentu”. Artinya pengorganisasian ini merupakan
pembagian tugas-tugas dalam melaksanakan kerjasama untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Dapat dipahami bahwa pengorganisasian pada dasarnya merupakan
upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang telah dibuat dengan susunan
organisasi pelaksananya. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam
pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan harus jelas siapa yang
mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya. Berkenaan dengan
pengorganisasian ini, Hadari Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas dalam
organisasi, diantaranya adalah: (a) organisasi harus profesional, yaitu dengan
pembagian satuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan, (b) pengelompokan satuan
kerja, yaitu harus menggambarkan pembagian kerja, (c) organisasi harus mengatur
pelimpahan wewenang dan tanggung jawab, (d) organisasi harus mencerminkan
rentangan kontrol, (e) organisasi harus mengandung kesatuan perintah, dan (f)
organisasi harus fleksibel dan seimbang. Ernest Dale seperti dikutip oleh T.
Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam proses pengorganisasian, yaitu: (a)
pemerincian seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan
organisasi, (b) pembagian beban pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang
fakta dapat dilaksanakan oleh satu orang, dan (c) pengadaan dan pengembangan
suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota menjadi kesatuan
yang terpadu dan harmonis.
3.
Pelaksanaan (actuating)
Dari seluruh rangkaian
proses manajemen, pelaksanaan (actuating)
merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan
pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses
manajemen, sedangkan fungsi pelaksanaan (actuating)
justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan
orang-orang dalam organisasi tersebut. Dalam hal ini, George R. Terry (1986)
mengemukakan bahwa pelaksanaan (actuating)
merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga
mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran
anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin
mencapai sasaran-sasaran tersebut. Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating) merupakan upaya untuk menjadikan
perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan
pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal
sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya. Hal yang penting untuk
diperhatikan dalam pelaksanan (actuating)
ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu
jika: (1) merasa yakin bahwa mampu mengerjakan, (2) yakin bahwa pekerjaan
tersebut memberikan manfaat bagi dirinya, (3) tidak sedang dibebani oleh
masalah pribadi atau tugas lain yang lebih penting atau mendesak, (4) tugas
tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan (5) hubungan antar
teman dalam organisasi tersebut harmonis.
4.
Pengawasan (controlling)
Pengawasan (controlling) merupakan fungsi manajemen
yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi sebelumnya,
tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dalam hal ini, Robert J.
Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan
definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan,
bahwa: “Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan
standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem
informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah
ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta
mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber
daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam
pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.” Dengan demikian, pengawasan merupakan
suatu kegiatan yang penting dalam berusaha untuk mengendalikan agar tujuan pelaksanaan
dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi
tercapai atau tidak. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan
itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya, dengan
pengawasan kita akan tahu akan kesalahan.
Berikut ini akan
diuraikan secara ringkas tentang bidang-bidang kegiatan pendidikan di sekolah,
yang mencakup:
·
Manajemen kurikulum
Manajemen
kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama di sekolah. Prinsip dasar
manajemen kurikulum ini adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan
dengan baik, dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa dan mendorong guru
untuk menyusun dan terus menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya.
Tahapan manajemen kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap: (a)
perencanaan, (b) pengorganisasian dan koordinasi, (c) pelaksanaan, dan (d)
pengendalian.
·
Manajemen kesiswaan
Dalam
manajemen kesiswaan merupakan perencanaan dan pengambilan keputusan terkait
dengan kegiatan siswa. Oleh karena itu, setiap siswa memiliki minat yang
beragam sehingga siswa memiliki minat atau wahana untuk berkembang secara
optimal.
·
Manajemen personalia
Manajemen
personalia merupakan penguasaan kompetensi dari para personil sekolah agar
setiap warga sekolah dapat bekerjasama dan saling mendukung untuk mencapai
tujuan sekolah.
·
Manajemen keuangan
Manajemen
keuangan merupakan pengelolaan dana yang dikaitkan dengan program tahunan
sekolah. Oleh karena itu perlu diperhatikan dengan cara melakukan pengawasan,
pengendalian, dan pemeriksaan.
Sumber baca:
Yanuar Akhmad, (2016). Peran Manajemen Sekolah. FKIP UMP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar