Nama:
Nikita
Nim:
11901067
Kelas:
PAI 4C
Mata
Kuliah: Magang 1
“Kultur Sekolah”
A. Pengertian
Kultur Sekolah
Menurut
Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan merupakan seluruh sistem
gagasan, rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.
Kultur
merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat,
yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam
wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan
diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan
lembaga utama yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antar
generasi tersebut.
Budaya
sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah
dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang
bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi,
memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir,
bertindak, dan merasa. Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan
upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan
selama transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap
sekolah. Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan
nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan.
Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan
makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses
pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten
dengan visi sekolah.
Lebih
lanjut dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai
dari yang abstrak atau non-material hingga yang konkrit atau material, yaitu:
- Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
- Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.
- Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.
4)
Letal, lingkungan, dan prasarana fisik
sekolah seperti gedung sekolah dan perlengkapan lainnya.
Budaya
sekolah menyebabkan terjadinya perbedaan respon sekolah terhadap perubahan
kebijakan pendidikan, dikarenakan adanya perbedaan karakteristik yang melekat
pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan
sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang
pelayanan sekolah (siti Irene Astuti D, 2009: 74).
Jadi
dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur
sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni
sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya sekolah juga mempengaruhi
kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam
merancang pelayanan sekolah. Mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan
dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka
sebagai warga suatu masyarakat. Jika definisi ini diterapkan di sekolah,
sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan
sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi. Sejumlah keyakinan dan nilai
disepakati secara luas di sekolah, sejomlah kelompok memiliki kesepakatan
terbatas di kalangan mereka tentang keyakinan dan nilai-nilai. Keadaan ini
tidak menguntungkan, jika antara nilai-nilai dominan dan nilai-nilai
subordinasi itu tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan membangun suatu
masyarakat sekolah pro belajar atau
membangun sekolah yang bermutu.
Dapat
disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai
makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan
lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya.
Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau
suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan
pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan
dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan
maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia).
Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai
kebudayaannya tersebut yang tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan
oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena
lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.
B. Implikasi
Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah
1. Visi
dan Nilai (Vision and Values)
Visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa
depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan.
Nilai bukan sekedar sebuah preferensi, melainkan persenyawaan dari pemikiran,
perasaan, dan preferensi. Menurut Parsons dan Shils (Enz, 1986), komponen nilai
meliputi: kognitif, emosional, dan evaluatif. Sedangkan menurut Harrison dan
Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai
instrumental.
Nilai intrinsik merupakan nilai yang ditegakkan
tanpa memperhatikan untung atau rugi, misalnya nilai patriotisme. Sedangkan
nilai instrumental merupakan nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya
produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur
yang penting.
2. Upacara
dan Perayaan (Ritual and Ceremony)
Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat
dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Upacara merupakan
salah satu kegiatan penting yang sering dilakukan di sekolah. Upacara dapat
menumbuhkan rasa nasionalisme anak bangsa. Nasionalisme merupakan jiwa bangsa
indonesia yang harus melekat selama negara ini masih berdiri. Oleh karena itu,
upacara menjadi salah satu kegiatan penting untuk membentuk karakter bangsa.
3. Sejarah
dan Cerita (History and Stories)
Setiap budaya sekolah ada aliran sejarah dan
peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini. Sejarah
dan cerita merupakan masa lalu penting yang mengalirkan dan membangkitkan
semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan.
4. Arsitektur
dan Artefak
Kultur sekolah merupakan aset yang bersifat abstrak,
bersifat unik, dan senantiasa berproses dengan dinamika yang tidak sama antara
satu sekolah dengan sekolah yang lain. artifak dapat berupa:
-
Perilaku verbal: ungkapan lisan atau
tulis dalam bentuk kalimat dan kata-kata.
-
Perilaku non verbal: ungkapan dalam
tindakan.
-
Benda hasil budaya: arsitektur,
eksterior dan interior, lambang, tata ruang, dan sebagainya.
Dibalik
artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berupa:
-
Nilai-nilai: mutu, disiplin, toleransi,
dan sebagainya.
-
Keyakinan: mau bekerja keras.
-
Asumsi: semua anak dapat menguasai bahan
pelajaran, hanya waktu yang perlu dibedakan.
Namun
demikian, dalam praktiknya kultur sekolah seringkali justru terlewatkan dalam
upaya perbaikan sekolah seperti:
-
Budaya mendorong terwujudnya efektivitas
dan produktivitas sekolah
Hal ini penting untuk memberikan motivasi sosial
dalam suatu pekerjaan yang menuntut mereka siap mengajar. Budaya mendorong,
memberi sanksi, dan memberi penghargaan pada tugas profesional untuk
meningkatkan keterampilan mereka.
-
Budaya meningkatkan kegiatan kolegial
dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik pemecahan
masalah
Maksudnya yaitu budaya menghargai untuk
mempertukarkan ide-ide sosial dan pemecahan masalah dengan profesional.
-
Budaya mendorong upaya keberhasilan
perubahan dan perbaikan
Budaya sekolah mendorong pembelajaran dan kemajuan
dengan mengembangkan iklim yang kondusif untuk perubahan tujuan, dukungan untuk
mengambil resiko dan eksperimentasi, serta semangat masyarakat dalam menilai
kemajuan tujuan tersebut.
-
Budaya membangun komitmen dan
identifikasi dari para staf, siswa dan tenaga administrasi
Komitmen tumbuh dengan kuat dan memelihara kultur
sosial. Motivasi diperkuat melalui ritual yang memelihara identitas, tradisi
yang mengintensifkan koneksi ke sekolah, dan upacara yang membangun komunitas.
-
Budaya menguatkan energi, motivasi, dan
vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas atau masyarakat
Iklim sosial budaya berpengaruh terhadap orientasi
emosional dan psikologis para staf. Dalam sejumlah kasus, sekolah yang memiliki
spirit optimis memiliki iklim yang positif, bersemangat, menghargai, dan
mendorong. Tetapi sebaliknya, dalam sekolah yang pesimis, yang berkembang
adalah kultur negatif dan lingkungan sosial yang negatif dan tidak produktif.
-
Budaya meningkatkan fokus pada perilaku
keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai atau berharga
Dengan nilai yang kuat dan bermakna akan menjadi
lebih berfokus pada isu-isu penting seperti: kualitas pembelajaran, pengajaran
yang kontinyu, dan akselerasi belajar bagi seluruh siswa. Dengan demikian,
budaya sekolah memiliki pengaruh terhadap prestasi sekolah, perubahan dan
perbaikan sekolah, serta berpengaruh pada pembelajaran siswa.
C. Praktik
Pengembangan Kultur Sekolah
Pengembangan
kultur di masing-masing sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang
dianggap penting oleh masing-masing sekolah, seperti: visi-misi, kondisi dan
potensi sekolah. Adapun kultur sekolah yang dikembangkan antara lain:
1)
Prestasi akademik
Prestasi akademik ini
biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di
sekolah. Prestasi akademik berupa kecakapan, kemampuan atau sebuah hasil dari
usaha yang akan semakin bertambah dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh
proses belajar. Artinya, pengetahuan itu akan bertambah dikarenakan adanya
pembelajaran di kelas, bukan dari pertumbuhan. Sebagian besar orang tua siswa
cenderung menghargai prestasi akademik dari pada prestasi lainnya.
2)
Non-Akademik
Non-akademik dapat
dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi seperti olahraga,
seni, dan keterampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga
dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa
memiliki keleluasaan untuk berpatisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis,
berperilaku humanis.
3)
Karakter
Karakter berkaitan
dengan moral. Adapun variasi nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui
kultur sekolah antara lain: yang kondusif bagi pengembangan nilai-nilai
religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan,
dan lainnya.
4)
Kelestarian lingkungan hidup
Sejumlah sekolah di
berbagai level SD, SMP, SMA mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai
sekolah adiwiyata, yaitu sekolah yang menjaga kelestarian lingkungan hidup di
sekolah. Penghargaan tersebut perlu
diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan.
Perbaikan mutu sekolah perlu memahami
kultur sekolah sebagai modal dasarnya. Melalui pemahaman kultur sekolah akan
diketahui kesesuaian visi, misi, tujuan dan tindakan atau proses di sekolah
tersebut, aneka permasalahan yang dihadapi dan refleksi dari
pengalaman-pengalaman. Kultur sekolah yang baik akan siap dan mampu
meningkatkan sekolahnya menjadi sekolah bermutu, yang meliputi artifak, nilai
dan keyakinan, serta asumsi. Dari seluruh rangkaian tersebut akan dicapai
sekolah yang bermutu atau berkualitas.
Kultur sekolah bersifat statis tetapi bersifat dinamis. Lingkungan yang senantiasa berubah dan sulit dibendung bertendensi pada perubahan pola perilaku individu termasuk warga sekolah. Dengan demikian perubahan pola perilaku dapat mempengaruhi sistem nilai, keyakinan bahkan sistem asumsi yang sudah terbangun di sekolah. Pada sisi lain dinamika kultur sekolah membuka peluang adanya konflik atau ketidakteraturan. Keadaan seperti ini terjadi karena benturan nilai dari personel sekolah. Kultur sekolah akan bertahan dan tetap eksis apabila seluruh komponen sekolah tahan uji terhadap berbagai perubahan yang kebanyakan bernuansa kompetetif dan anarkis bukan kolaboratif dan kooperatif.
sumber baca: Ariefa Efianingrum, 2013. Kultur Sekolah. Jurnal Pemikiran sosiologi, Vol. 2, No. 1, Hal 22-28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar