Selasa, 13 April 2021

Kultur Sekolah

 

Nama: Nikita

Nim: 11901067

Kelas: PAI 4C

Mata Kuliah: Magang 1

“Kultur Sekolah”

 

A.      Pengertian Kultur Sekolah

Menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan merupakan seluruh sistem gagasan, rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.

Kultur merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Oleh karena itu, suatu kultur secara alami akan diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memperlancar proses transmisi kultural antar generasi tersebut.

Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa. Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari yang abstrak atau non-material hingga yang konkrit atau material, yaitu:

  • Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
  • Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.
  • Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

4)      Letal, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah seperti gedung sekolah dan perlengkapan lainnya.

Budaya sekolah menyebabkan terjadinya perbedaan respon sekolah terhadap perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan adanya perbedaan karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah (siti Irene Astuti D, 2009: 74).

Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya sekolah juga mempengaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah. Mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga suatu masyarakat. Jika definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi. Sejumlah keyakinan dan nilai disepakati secara luas di sekolah, sejomlah kelompok memiliki kesepakatan terbatas di kalangan mereka tentang keyakinan dan nilai-nilai. Keadaan ini tidak menguntungkan, jika antara nilai-nilai dominan dan nilai-nilai subordinasi itu tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan membangun suatu masyarakat sekolah pro belajar atau membangun sekolah yang bermutu.

Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.

 

B.       Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah

1.    Visi dan Nilai (Vision and Values)

Visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai bukan sekedar sebuah preferensi, melainkan persenyawaan dari pemikiran, perasaan, dan preferensi. Menurut Parsons dan Shils (Enz, 1986), komponen nilai meliputi: kognitif, emosional, dan evaluatif. Sedangkan menurut Harrison dan Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental.

Nilai intrinsik merupakan nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung atau rugi, misalnya nilai patriotisme. Sedangkan nilai instrumental merupakan nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang penting.

2.    Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya. Upacara merupakan salah satu kegiatan penting yang sering dilakukan di sekolah. Upacara dapat menumbuhkan rasa nasionalisme anak bangsa. Nasionalisme merupakan jiwa bangsa indonesia yang harus melekat selama negara ini masih berdiri. Oleh karena itu, upacara menjadi salah satu kegiatan penting untuk membentuk karakter bangsa.

3.    Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Setiap budaya sekolah ada aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini. Sejarah dan cerita merupakan masa lalu penting yang mengalirkan dan membangkitkan semangat untuk mewujudkan kejayaan masa depan.

4.    Arsitektur dan Artefak

Kultur sekolah merupakan aset yang bersifat abstrak, bersifat unik, dan senantiasa berproses dengan dinamika yang tidak sama antara satu sekolah dengan sekolah yang lain. artifak dapat berupa:

-          Perilaku verbal: ungkapan lisan atau tulis dalam bentuk kalimat dan kata-kata.

-          Perilaku non verbal: ungkapan dalam tindakan.

-          Benda hasil budaya: arsitektur, eksterior dan interior, lambang, tata ruang, dan sebagainya.

Dibalik artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berupa:

-          Nilai-nilai: mutu, disiplin, toleransi, dan sebagainya.

-          Keyakinan: mau bekerja keras.

-          Asumsi: semua anak dapat menguasai bahan pelajaran, hanya waktu yang perlu dibedakan.

Namun demikian, dalam praktiknya kultur sekolah seringkali justru terlewatkan dalam upaya perbaikan sekolah seperti:

-          Budaya mendorong terwujudnya efektivitas dan produktivitas sekolah

Hal ini penting untuk memberikan motivasi sosial dalam suatu pekerjaan yang menuntut mereka siap mengajar. Budaya mendorong, memberi sanksi, dan memberi penghargaan pada tugas profesional untuk meningkatkan keterampilan mereka.

-          Budaya meningkatkan kegiatan kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik pemecahan masalah

Maksudnya yaitu budaya menghargai untuk mempertukarkan ide-ide sosial dan pemecahan masalah dengan profesional.

-          Budaya mendorong upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan

Budaya sekolah mendorong pembelajaran dan kemajuan dengan mengembangkan iklim yang kondusif untuk perubahan tujuan, dukungan untuk mengambil resiko dan eksperimentasi, serta semangat masyarakat dalam menilai kemajuan tujuan tersebut.

-          Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para staf, siswa dan tenaga administrasi

Komitmen tumbuh dengan kuat dan memelihara kultur sosial. Motivasi diperkuat melalui ritual yang memelihara identitas, tradisi yang mengintensifkan koneksi ke sekolah, dan upacara yang membangun komunitas.

-          Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas atau masyarakat

Iklim sosial budaya berpengaruh terhadap orientasi emosional dan psikologis para staf. Dalam sejumlah kasus, sekolah yang memiliki spirit optimis memiliki iklim yang positif, bersemangat, menghargai, dan mendorong. Tetapi sebaliknya, dalam sekolah yang pesimis, yang berkembang adalah kultur negatif dan lingkungan sosial yang negatif dan tidak produktif.

-          Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai atau berharga

Dengan nilai yang kuat dan bermakna akan menjadi lebih berfokus pada isu-isu penting seperti: kualitas pembelajaran, pengajaran yang kontinyu, dan akselerasi belajar bagi seluruh siswa. Dengan demikian, budaya sekolah memiliki pengaruh terhadap prestasi sekolah, perubahan dan perbaikan sekolah, serta berpengaruh pada pembelajaran siswa.

 

C.       Praktik Pengembangan Kultur Sekolah

Pengembangan kultur di masing-masing sekolah dapat disesuaikan dengan aspek-aspek yang dianggap penting oleh masing-masing sekolah, seperti: visi-misi, kondisi dan potensi sekolah. Adapun kultur sekolah yang dikembangkan antara lain:

1)      Prestasi akademik

Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah. Prestasi akademik berupa kecakapan, kemampuan atau sebuah hasil dari usaha yang akan semakin bertambah dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh proses belajar. Artinya, pengetahuan itu akan bertambah dikarenakan adanya pembelajaran di kelas, bukan dari pertumbuhan. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai prestasi akademik dari pada prestasi lainnya.

2)      Non-Akademik

Non-akademik dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi seperti olahraga, seni, dan keterampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang (space) yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpatisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis.

3)      Karakter

Karakter berkaitan dengan moral. Adapun variasi nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: yang kondusif bagi pengembangan nilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lainnya.

4)      Kelestarian lingkungan hidup

Sejumlah sekolah di berbagai level SD, SMP, SMA mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah yang menjaga kelestarian lingkungan hidup di sekolah.  Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan.

 

Perbaikan mutu sekolah perlu memahami kultur sekolah sebagai modal dasarnya. Melalui pemahaman kultur sekolah akan diketahui kesesuaian visi, misi, tujuan dan tindakan atau proses di sekolah tersebut, aneka permasalahan yang dihadapi dan refleksi dari pengalaman-pengalaman. Kultur sekolah yang baik akan siap dan mampu meningkatkan sekolahnya menjadi sekolah bermutu, yang meliputi artifak, nilai dan keyakinan, serta asumsi. Dari seluruh rangkaian tersebut akan dicapai sekolah yang bermutu atau berkualitas.

Kultur sekolah bersifat statis tetapi bersifat dinamis. Lingkungan yang senantiasa berubah dan sulit dibendung bertendensi pada perubahan pola perilaku individu termasuk warga sekolah. Dengan demikian perubahan pola perilaku dapat mempengaruhi sistem nilai, keyakinan bahkan sistem asumsi yang sudah terbangun di sekolah. Pada sisi lain dinamika kultur sekolah membuka peluang adanya konflik atau ketidakteraturan. Keadaan seperti ini terjadi karena benturan nilai dari personel sekolah. Kultur sekolah akan bertahan dan tetap eksis apabila seluruh komponen sekolah tahan uji terhadap berbagai perubahan yang kebanyakan bernuansa kompetetif dan anarkis bukan kolaboratif dan kooperatif.


sumber baca: Ariefa Efianingrum, 2013. Kultur Sekolah. Jurnal Pemikiran sosiologi, Vol. 2, No. 1, Hal 22-28

Tidak ada komentar:

Posting Komentar