Nama:
Nikita
Nim:
11901067
Kelas:
PAI 4C
Makul:
Magang 1
Manajemen Kelas
v Pengertian
Manajemen Kelas
Manajemen
adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan
sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan
tertentu (H. Malayu S.P. Hasibuan,2004:54).
Kelas
adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapatkan
pembelajaran dari guru” (Syaiful Bahri, Djamarah,2002 :196). Menurut Suharsimi
Arikunto, kelas adalah “sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima
pelajaran yang sama dan guru yang sama” (Syaiful Bahri,2002 :196).
Dari
kedua pendapat di atas keduanya sejalan karena mengemukakan pengertian kelas
dari segi anak didik. Sedangkan menurut Hadari Nawawi memandang kelas dari dua
sudut yaitu: 1) Kelas dalam arti sempit adalah ruangan yang dibatasi oleh empat
dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar
mengajardan 2) Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil merupakan
bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit
kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar
yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.Berdasarkan dari pendapat di atas
dapat dipahami bahwa pada dasarnya kelas merupakan tempat berkumpulnya beberapa
orang dalam melangsungkan proses belajar mengajar (Syaiful Bahri, Djamarah,
Aswan Zain, 2006: 176).
Berdasarkan
definisi, dapat dijelaskan bahwa manajemen merupakan usaha dari pihak guru
untuk menata kehidupan kelas dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan
prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimalkan
efesiensi, memantau kemajuan siswa dan mengantisipasi masalah-masalah yang
mungkin muncul dalam proses belajar. Studi manajemen mempunyai tiga sasaran
pokok: 1. Perencanaan kurikulum yang lengkap mulai dari rumusan tujuan, bahan
pembelajaran sampai pada evaluasi, hal ini dilakukan karena tanpa perencanaan
usaha penataan kelas sulit mencapai hasil yang maksimal; 2. Pengorganisasian
proses belajar mengajar dan sumber belajar sehingga serasi dan bermakna;
Penataan lingkungan sangat dibutuhkan agar bisa menjadi usaha guru dalam menata
kelas agar kelas menjadi merangsang dan penuh akan motivasi untuk memunculkan
proses belajar mengajar yang efektif dan efisien.Adapun Menurut Sudirman N,
dkk. manajemen kelas adalah “upaya mendayagunakan potensi kelas”, dijelaskan
lagi oleh Hadari Nawawi dengan mengatakan bahwa:Manajemen kelas diartikan
sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas
berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk
melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehinggah waktu dan dana
yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efesien untuk melakukan
kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid (Syaiful
, Djamarah, Aswan Zein, 2006: 177).
Manajemen
kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan belajar
mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga
dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Menurut konsepsi
lama manajemen kelas adalah sebagai upaya untuk mempertahankan keyertiban
kelas. Sementara itu menurut konsepsi modern, manajemen kelas adalah proses
seleksi yang menggunakan alat yang tepat terhadap problem dan situasi manajemen
kelas. Guru, menurut konsepsi lama, berugas menciptakan, memperbaiki, dan
memelihara sistem atau organisasi kelas sehingga individu dapat memanfaatkan
kemampuannya, bakat dan energinya pada tugas-tugas individual.
Dari
beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, manajemen kelas adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh seorang guru dalam menciptakan atau
mempertahankan kondisi yang optimal, dalam proses belajar mengajar sehingga
tujuan pembelajaran dapat tercapai.
v Tujuan
Manajemen Kelas
Secara
umum manajemen kelas dimanfaatkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok
kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang dapat memungkinkan siswa
berbuat sesuai dengan kemampuannya. Penerapan manajemen kelas produknya dinamis
sesuai dengan tujuan[1]tujuan
yang hendak dicapai. Adapun tujuan manajemen kelas antara lain:
- Agar
pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal sehingga tujuan pembelajaran dapat
dicapai secara efektif dan efisien
- Untuk
memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya, Menurut
Sudirman dkk, tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi
bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan
intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu meningkatkan proses
belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan,
suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta
apresiasi siswa. Sedangkan Suharsini Arikunto, mengatakan bahwa tujuan
manajemen kelas adalah “agar setiap anak di kelas itu dapat bekerja dengan
tertib sehingga segera tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien”.
Tujuan manajemen kelas menurut Sudirman
(dalam Djamarah 2006:170) pada hakikatnya terkandung dalam tujuan pendidikan.
Tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan
belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas.
Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja.
Terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin,
perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Sedangkan Arikunto (dalam Djamarah 2006:178) berpendapat bahwa tujuan manajemen
kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera
tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
v Asas-Asas
Manajemen Kelas
1) Asas
Apersepsi
Apersepsi adalah memperoleh tanggapan-tanggapan baru
dengan bantuan tanggapan yang telah ada. Pengetahuan (struktur kognitif) yang
telah dimiliki siswa dapat digunakan untuk memahami sesuatu yang belum
diketahui sehingga didapat sesuatu yang bernakna bagi siswa. Apersepsi
diharapkan dapat membangkitkan minat dan perhatian siswa terhadap sesuatu.
2) Asas
Peragaan
Peragaan merupakan metode pembelajaran yang sangat
efektif karena sangat menarik bagi siswa apalagi jika peragaan itu
menggambarkan aktivitas yang sebenarnya. Asas peragaan menurut dapat diwujudkan
dalam bentuk: (1) pengalaman langsung; (2) pengalaman yang diatur, (3)
dramatisasi; (4) demonstrasi; (5) karyawisata; (6) pameran; (7) televisi
sebagai alat peraga; (8) film sebagai alat peraga; dan (9) gambar sebagai alat
peraga.
3) Asas
Motivasi
Dalam menjalankan tugasnya sebagai edukator, guru
juga bertugas sebagai motivator yang mendorong siswa untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu demi suksesnya tujuan belajar. Guru harus bisa memotivasi
siswa agar memiliki semangat dan kemauan untuk lebih giat belajar. Beberapa
contoh yang dapat diterapkan guru dalam memotivasi siswa antara lain:
- Mendesain
tujuan pembelajaran agar lebih menarik dan jelas.
- Menciptakan
suasana yang kondusif dan menyenangkan.
- Memberikan
reward (penghargaan) bukan sebaliknya memberikan hukuman (punishment).
Memberikan siswa pekerjaan rumah yang disesuaikan dengan kemampuan siswa
- Mendiskusikan
hasil evaluasi siswa
4) Asas
Belajar Aktif
Siswa harus didorong untuk terlibat secara aktif
dalam kegiatan pembelajaran yang dilangsungkan guru baik mental maupun
fisiknya. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menyerap kebermaknaan pembelajaran
yang akan berguna bagi dirinya.
5) Asas
Kerjasama
Proses belajar mengajar harus memberikan kesempatan
bagi siswa untukberlatih bagaimana hidup dalam kelompok dan menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi secara bersama-sama. Diharapkan siswa dapat
menghayati makna kerjasama dan nantinya dapat menerapkannya dalam kehidupan
bermasyarakat, karena siswa juga merupakan pelaku masyarakat yang sangat
dituntut untuk dapat memajukan masyarakat secara bersama-sama.
6) Asas
Mandiri
Guru sebagai fasilitator harus dapat menghubungkan
pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa agar siswa dapat
memaknai pembelajaran secara mandiri. Masalah yang diajukan guru untuk
diselesaikan oleh siswa harus sesuai dengan perkembangan usia dan kematangan
siswa sehingga diharapkan secara bertahap siswa akan mampu menyelesaikan
masalah yang dihadapinya tanpa bantuan orang lain.
7) Asas
Penyesuaian dengan Individu Siswa
Kemampuan tiap siswa dalam menguasai suatu materi
pelajaran berbeda-beda, sehingga guru dituntut untuk mampu menyesuaikan iklim
pembelajaran dengan kecepatan masing[1]masing
anak. Guru perlu paham benar karakteristik masing[1]masing anak didiknya
untuk dapat menciptakan pembelajaran yang adaptif dengan karakteristik semua
anak didiknya.
8) Asas
Korelasi
Asas korelasi adalah mengaitkan pokok bahasan yang
diajarkan dengan pokok bahasan lain dalam satu mata pelajaran ataupun dengan
pelajaran lain. Asas ini digunakan untuk dapat membuat suatu pokok bahasan
lebih bermakna bagi siswa. Tidak jarang siswa melupakan apa yang telah
diajarkan sebelumnya. Korelasi pokok bahasan yang diajarkan dengan pokok
bahasan lain misalnya dengan pokok bahasan yang sudah diajarkan akan membuat
siswa mengingat kembali dan menemukan kebermaknaan pembelajaran dengan tepat.
Misalnya untuk pokok bahasan perkalian dalam Matematika, guru dapat
mengkorelasikannya dengan pokok bahasan penjumlahan yang sebelumnya sudah
dikuasai siswa. Guru memfasilitasi siswa dalam pembelajaran untuk mengkaitkan
hubungan antara pokok bahasan tersebut dan diharapkan siswa dapat menyerap
makna pembelajaran tanpa melupakan apa yang sudah pernah dikuasainya.
9) Asas
Evaluasi yang Teratur
Melakukan evaluasi terhadap proses belajar mengajar
yang ditunjukan oleh kinerja siswa dalam belajar perlu dilakukan secara teratur
dan berkesinambungan selama dan setelah proses belajar mengajar berlangsung.
v Prinsi-Prinsip
Manajemen Kelas
Prinsip-prinsip
manajemen kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut:
a. Hangat
dan antusias
Hangat dan antusias merupakan salah satu peinsip
yang diperlukan dalam proses belajar dan mengajar. Guru yang hangat dan akrab
pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada
aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan manajemen kelas.
b. Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau
bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar
sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
c. Bervariasi
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola
interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan,
meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya
manajemen kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.
d. Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi
mengajarnya dapat mecegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta
menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pembelajaran dapat
mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak
mengerjakan tugas dan sebagainya.
e. Penekanan
pada hal-hal yang positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik guru harus
menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada
hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang
dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yangpositif dari pada mengomeli
tingkah laku yang negatif,. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian
penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang
dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
f. Penanaman
disiplin diri
Tujuan akhir dari manajemen kelas adalah anak didik
dapat mengembangkan disiplin diri sendiri dan guru hendaknya menjadi teladan
mengendalaikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin
dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.
g. Stabilitas
emosi yang stabil, Yaitu guru harus bisa menjaga emosinya dan sabar dalam
melatih perseta didik.
h. Optimisme
dan Percaya diri, Yaitu diharapkan guru punya rasa kepercayaan diri yang kuat
dalam mengajar.
i. Keserderhanaan
(penampilan dan pakaianan)
j. Adil
yaitu seorang guru harus menyamakan peserta didik tanpa bembedakan gender nya yang
kaya maupun siswa yang miskin, yang pintar mapun yang bodoh, adil dalam
memberikan nilai.
k. Humoris
yaitu seorang guru harus bisa membawa suasana belajar yang santai tidak kaku,
kadang-kadang ada suatu cerita yang membuat anak didik tertawa.