Sabtu, 31 Juli 2021

Manajemen Kelas

 

Nama: Nikita

Nim: 11901067

Kelas: PAI 4C

Makul: Magang 1

 

Manajemen Kelas

 

v Pengertian Manajemen Kelas

Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu (H. Malayu S.P. Hasibuan,2004:54).

Kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapatkan pembelajaran dari guru” (Syaiful Bahri, Djamarah,2002 :196). Menurut Suharsimi Arikunto, kelas adalah “sekelompok siswa yang pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dan guru yang sama” (Syaiful Bahri,2002 :196).

Dari kedua pendapat di atas keduanya sejalan karena mengemukakan pengertian kelas dari segi anak didik. Sedangkan menurut Hadari Nawawi memandang kelas dari dua sudut yaitu: 1) Kelas dalam arti sempit adalah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajardan 2) Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.Berdasarkan dari pendapat di atas dapat dipahami bahwa pada dasarnya kelas merupakan tempat berkumpulnya beberapa orang dalam melangsungkan proses belajar mengajar (Syaiful Bahri, Djamarah, Aswan Zain, 2006: 176).

Berdasarkan definisi, dapat dijelaskan bahwa manajemen merupakan usaha dari pihak guru untuk menata kehidupan kelas dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimalkan efesiensi, memantau kemajuan siswa dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin muncul dalam proses belajar. Studi manajemen mempunyai tiga sasaran pokok: 1. Perencanaan kurikulum yang lengkap mulai dari rumusan tujuan, bahan pembelajaran sampai pada evaluasi, hal ini dilakukan karena tanpa perencanaan usaha penataan kelas sulit mencapai hasil yang maksimal; 2. Pengorganisasian proses belajar mengajar dan sumber belajar sehingga serasi dan bermakna; Penataan lingkungan sangat dibutuhkan agar bisa menjadi usaha guru dalam menata kelas agar kelas menjadi merangsang dan penuh akan motivasi untuk memunculkan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien.Adapun Menurut Sudirman N, dkk. manajemen kelas adalah “upaya mendayagunakan potensi kelas”, dijelaskan lagi oleh Hadari Nawawi dengan mengatakan bahwa:Manajemen kelas diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah sehinggah waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efesien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid (Syaiful , Djamarah, Aswan Zein, 2006: 177).

Manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggungjawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. Menurut konsepsi lama manajemen kelas adalah sebagai upaya untuk mempertahankan keyertiban kelas. Sementara itu menurut konsepsi modern, manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tepat terhadap problem dan situasi manajemen kelas. Guru, menurut konsepsi lama, berugas menciptakan, memperbaiki, dan memelihara sistem atau organisasi kelas sehingga individu dapat memanfaatkan kemampuannya, bakat dan energinya pada tugas-tugas individual.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang guru dalam menciptakan atau mempertahankan kondisi yang optimal, dalam proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

v Tujuan Manajemen Kelas

Secara umum manajemen kelas dimanfaatkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang dapat memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Penerapan manajemen kelas produknya dinamis sesuai dengan tujuan[1]tujuan yang hendak dicapai. Adapun tujuan manajemen kelas antara lain:

-       Agar pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien

-       Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya, Menurut Sudirman dkk, tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu meningkatkan proses belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi siswa. Sedangkan Suharsini Arikunto, mengatakan bahwa tujuan manajemen kelas adalah “agar setiap anak di kelas itu dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien”.

Tujuan manajemen kelas menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:170) pada hakikatnya terkandung dalam tujuan pendidikan. Tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa belajar dan bekerja. Terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional, dan sikap serta apresiasi pada siswa. Sedangkan Arikunto (dalam Djamarah 2006:178) berpendapat bahwa tujuan manajemen kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

v Asas-Asas Manajemen Kelas

1)   Asas Apersepsi

Apersepsi adalah memperoleh tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang telah ada. Pengetahuan (struktur kognitif) yang telah dimiliki siswa dapat digunakan untuk memahami sesuatu yang belum diketahui sehingga didapat sesuatu yang bernakna bagi siswa. Apersepsi diharapkan dapat membangkitkan minat dan perhatian siswa terhadap sesuatu.

2)   Asas Peragaan

Peragaan merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif karena sangat menarik bagi siswa apalagi jika peragaan itu menggambarkan aktivitas yang sebenarnya. Asas peragaan menurut dapat diwujudkan dalam bentuk: (1) pengalaman langsung; (2) pengalaman yang diatur, (3) dramatisasi; (4) demonstrasi; (5) karyawisata; (6) pameran; (7) televisi sebagai alat peraga; (8) film sebagai alat peraga; dan (9) gambar sebagai alat peraga.

3)   Asas Motivasi

Dalam menjalankan tugasnya sebagai edukator, guru juga bertugas sebagai motivator yang mendorong siswa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu demi suksesnya tujuan belajar. Guru harus bisa memotivasi siswa agar memiliki semangat dan kemauan untuk lebih giat belajar. Beberapa contoh yang dapat diterapkan guru dalam memotivasi siswa antara lain:

-       Mendesain tujuan pembelajaran agar lebih menarik dan jelas.

-       Menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan.

-       Memberikan reward (penghargaan) bukan sebaliknya memberikan hukuman (punishment). Memberikan siswa pekerjaan rumah yang disesuaikan dengan kemampuan siswa

-       Mendiskusikan hasil evaluasi siswa

4)   Asas Belajar Aktif

Siswa harus didorong untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran yang dilangsungkan guru baik mental maupun fisiknya. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menyerap kebermaknaan pembelajaran yang akan berguna bagi dirinya.

5)   Asas Kerjasama

Proses belajar mengajar harus memberikan kesempatan bagi siswa untukberlatih bagaimana hidup dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi secara bersama-sama. Diharapkan siswa dapat menghayati makna kerjasama dan nantinya dapat menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat, karena siswa juga merupakan pelaku masyarakat yang sangat dituntut untuk dapat memajukan masyarakat secara bersama-sama.

6)   Asas Mandiri

Guru sebagai fasilitator harus dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa agar siswa dapat memaknai pembelajaran secara mandiri. Masalah yang diajukan guru untuk diselesaikan oleh siswa harus sesuai dengan perkembangan usia dan kematangan siswa sehingga diharapkan secara bertahap siswa akan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya tanpa bantuan orang lain.

7)   Asas Penyesuaian dengan Individu Siswa

Kemampuan tiap siswa dalam menguasai suatu materi pelajaran berbeda-beda, sehingga guru dituntut untuk mampu menyesuaikan iklim pembelajaran dengan kecepatan masing[1]masing anak. Guru perlu paham benar karakteristik masing[1]masing anak didiknya untuk dapat menciptakan pembelajaran yang adaptif dengan karakteristik semua anak didiknya.

8)   Asas Korelasi

Asas korelasi adalah mengaitkan pokok bahasan yang diajarkan dengan pokok bahasan lain dalam satu mata pelajaran ataupun dengan pelajaran lain. Asas ini digunakan untuk dapat membuat suatu pokok bahasan lebih bermakna bagi siswa. Tidak jarang siswa melupakan apa yang telah diajarkan sebelumnya. Korelasi pokok bahasan yang diajarkan dengan pokok bahasan lain misalnya dengan pokok bahasan yang sudah diajarkan akan membuat siswa mengingat kembali dan menemukan kebermaknaan pembelajaran dengan tepat. Misalnya untuk pokok bahasan perkalian dalam Matematika, guru dapat mengkorelasikannya dengan pokok bahasan penjumlahan yang sebelumnya sudah dikuasai siswa. Guru memfasilitasi siswa dalam pembelajaran untuk mengkaitkan hubungan antara pokok bahasan tersebut dan diharapkan siswa dapat menyerap makna pembelajaran tanpa melupakan apa yang sudah pernah dikuasainya.

9)   Asas Evaluasi yang Teratur

Melakukan evaluasi terhadap proses belajar mengajar yang ditunjukan oleh kinerja siswa dalam belajar perlu dilakukan secara teratur dan berkesinambungan selama dan setelah proses belajar mengajar berlangsung.

v Prinsi-Prinsip Manajemen Kelas

Prinsip-prinsip manajemen kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut:

a.    Hangat dan antusias

Hangat dan antusias merupakan salah satu peinsip yang diperlukan dalam proses belajar dan mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan manajemen kelas.

b.    Tantangan

Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja, atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah siswa untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.

c.    Bervariasi

Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian siswa. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya manajemen kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.

d.   Keluwesan

Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mecegah kemungkinan munculnya gangguan siswa serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pembelajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.

e.    Penekanan pada hal-hal yang positif

Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku siswa yangpositif dari pada mengomeli tingkah laku yang negatif,. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.

f.     Penanaman disiplin diri

Tujuan akhir dari manajemen kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri dan guru hendaknya menjadi teladan mengendalaikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.

g.    Stabilitas emosi yang stabil, Yaitu guru harus bisa menjaga emosinya dan sabar dalam melatih perseta didik.

h.  Optimisme dan Percaya diri, Yaitu diharapkan guru punya rasa kepercayaan diri yang kuat dalam mengajar.

i.      Keserderhanaan (penampilan dan pakaianan)

j.    Adil yaitu seorang guru harus menyamakan peserta didik tanpa bembedakan gender nya yang kaya maupun siswa yang miskin, yang pintar mapun yang bodoh, adil dalam memberikan nilai.

k.  Humoris yaitu seorang guru harus bisa membawa suasana belajar yang santai tidak kaku, kadang-kadang ada suatu cerita yang membuat anak didik tertawa.

Sistem Evaluasi

 

Nama: Nikita

Nim: 11901067

Kelas: PAI 4C

Makul: Magang 1

 

Sistem Evaluasi


v Pengertian Evaluasi

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives," Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.

Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasiinformasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program, produksi serta alternatif prosedur tertentu. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal, pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula.

Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah: process of delineating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. Ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining), penggambaran (delineating), penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). Sedangkan, Rooijackers Ad mendefinisikan evaluasi sebagai "setiap usaha atau proses dalam menentukan nilai". Secara khusus evaluasi atau penilaian juga diartikan sebagai proses pemberian nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.

Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas, kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut.

Evaluasi berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian yang pada umumnya diartikan tidak berbeda (indifferent), walaupun pada hakekatnya berbeda satu dengan yang lain. Pengukuran (measurement) adalah proses membandingkan sesuatu melalui suatu kriteria baku (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian adalah suatu proses transformasi dari hasil pengukuran menjadi suatu nilai. Evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan.

Selain pengertian di atas ternyata pengertian evaluasi pendidikan merupakan proses yang sistematis dalam :

-          Mengukur tingkat kemajuan yang dicapai siswa, baik ditinjau dari norma tujuan maupun dari norma kelompok

-          Menentukan apakah siswa mengalami kemajuan yang memuaskan kearah pencapaian tujuan pengajaran yang diharapkan. Bukan hanya seperti di katakan di atas saja pengertian evaluasi, tetapi ada beberapa istilah yang serupa dengan evaluasi itu, yang intinya masih mencakup evaluasi, yaitu di antaranya: (1) Measurement / pengukuran diartikan sebagai proses kegiatan untuk menentukan luas atau kuantitas sesuatu untuk mendapatkan informasi atau data berupa skor mengenai prestasi yang telah dicapai siswa pada periode tertentu dengan menggunakan berbagai tekhnik dan alat ukur yang relevan. (2) Tes secara harfiah diartikan suatu alat ukur berupa sederetan pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur kemampuan, tingkah laku, potensi, prestasi sebagai hasil pembelajaran.

v Tujuan dan Fungsi Evaluasi

Segala sesuatu yang di lakukan pasti mempunyai tujuan dan fungsi yang akan di capai, pastinya semua aktifitas tidak ingin hasilnya sia-sia, begitupun dengan evaluasi, ada tujuan dan fungsi yang ingin di capai, Evaluasi telah memegang peranan penting dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :

1)   Membuat kebijaksanaan dan keputusan

2)   Menilai hasil yang dicapai para pelajar

3)   Menilai kurikulum

4)   Memberi kepercayaan kepada sekolah

5)   Memonitor dana yang telah diberikan

6)   Memperbaiki materi dan program pendidikan

-       Tujuan Evaluasi

Pada dasarnya evaluasi merupakan proses penyusunan deskripsi siswa, baik secara kuantitatif maupun secara kulaitatif. Secara lugas evaluasi untuk mengukur kemampuan ranah cipta, rasa, dan karsa siswa.

a.    Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu.

b.    Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa di dalam kelompok kelasnya.apakah sisiwa tersebut termasuk kategori lambat, sedang, atau cepat.

c.    Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan seorang siswa dalam belajar. Apakah menunjukan tingkat usaha yang efisien atau tidak.

d.   Untuk mengetahui hingga sejauh mana seorang siswa telah mendayagunakan kafasitas kognitifnya.

e.    Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan oleh seorang guru dalam proses belajar-mengajar.

-       Fungsi Evaluasi Selain memiliki tujuan, evaluasi belajar juga memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut. Fungsi Evaluasi Bersifat Evaluatif, antara lain:

1)   Fungsi prognostik yaitu meramalkan sesuatu dalam menghadapi langkah selanjutnya

2)   Fungsi diagnostik yaitu evaluasi yang bertujuan yang mengetahui kelemahan-kelemahan siswa serta penyebabnya

3)   Fungsi judgement yaitu evaluasi yang dilakukan untuk menetukan keberhasilan siswa atau tes penentuan akhir.

-       Fungsi evaluasi bagi siswa

Bagi siswa, evaluasi digunakan untuk mengukur pencapaian keberhasilannya dalam mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Dalam hal ini ada dua kemungkinan :

1)   Hasil bagi siswa yang memuaskan Jika siswa memperoleh hasil yang emuaskan, tentunya kepuasan ini ingin diperolehnya kembali pada waktu yang akan datang. Untuk ini siswa akan termotifasi untuk belajar lebih giat agar perolehannya sama bahkan meningkat pada masa yang akan datang. Namun, dapat pula terjadi sebaliknya, setelah memperoleh hasil yang memuaskan siswa tidak rajin belajar sehingga pada waktu berikutnya hasilnya menurun.

2)   Hasil bagi siswa yang tidak memuaskan Jika siswa memperoleh hasil yang tidak memuaskan, maka pada kesempatan yang akan datang dia akan berusaha memperbaikinya. Oleh karena itu, siswa akan giat belajar. Tetapi bagi siswa yang kurang motivasi atau lemah kemauannya akan menjadi putus asa.

-       Fungsi evaluasi bagi guru

1)   Dapat mengetahui siswa manakah yang menguasai pelajran dan siswa mana pula yang belum. Dalam hal ini hendaknya guru memberikan perhatian kepada siswa yang belum berhasil sehingga pada akhirnya siswa mencapai keberhasilan yang diharapkan.

2)   Dapat mengetahui apakah tujuan dan materi pelajaran yang telah disampaikan itu dikuasai oleh siswa atau belum.

3)   Dapat mengetahui ketepatan metode yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran tersebut.

4)   Bila dari hasil evaluasi itu tidak berhasil, maka dapat dijadikan bahan remidial. Jadi, evaluasi dapat dijadikan umpan balik pengajaran.

-       Fungsi evaluasi bagi sekolah

1)   Untuk mengukur ketepatan kurikulum atau silabus. Melalui evaluasi terhadap pengajaran yang dilakukan oleh guru, maka akan dapat diketahui apakah ketepatan kurikulum telah tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan atau belum. Dari hasil penilaian tersebut juga sekolah dapat menetapkan langkah-langkah untuk perencanaan program berikutnya yang lebih baik.

2)   Untuk mengukur tingkat kemajuan sekolah. Sudah barang tentu jika hasil penilaian yang dilakukan menunjukkan tanda-tanda telah terlaksananya kurikulum sekolah dengan baik, maka berarti tingkat ketepatan dan kemajuan telah tercapai sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi sebaliknya jika tand-tanda itu menunjukkan tidak tercapainya sasaran yang diharapkan, maka dapat dikatakan bahwa tingkat ketepatan dan kemajuan sekolah perlu ditingkatkan.

3)   Mengukur keberhasilan guru dalam mengajar. Melalui evaluasi yang telah dilaksanakan dalam pengajaran merupakan bahan informasi bagi guru untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam melaksanakan pengajaran.

4)   Untuk meningkatkan prestasi kerja. Keberhasilan dan kemajuan yang dicapai dalm pengajaran akan mendorong bagi sekolah atau guru untuk terus meningkatkan prestasi kerja yang telah dicapai dan berusaha memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang mungkin terjadi.

v Ruang Lingkup Evaluasi

Evaluasi pendidikan mencakup dua sasaran pokok, yaitu : evaluasi makro (program) dan evaluasi mikro (kelas). Secara umum, evaluasi terbagi dalam tiga tahapan sesuai proses belajar mengajar yakni dimulai dari evaluasi input, evaluasi proses dan evaluasi output.

Setiap jenis evaluasi memiliki fungsi yang berbeda satu dengan yang lain. Evaluasi input mencakup fungsi kesiapan penempatan dan seleksi. Evaluasi proses mencakup formatif, diagnostik dan monitoring, sedangkan evaluasi output mencakup sumatif.

Fungsi kesiapan penempatan dan seleksi adalah penilaian yang ditujukan untuk mengetahui ketrampilan prasyarat yang diperlukan bagi suatu program belajar dan penguasaan belajar seperti yang diprogramkan sebelum memulai kegiatan belajar untuk program tersebut. Fungsi seleksi yaitu penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi, seperti ujian saringan masuk perguruan tinggi tertentu dengan berdasarkan kriteria tertentu.

Fungsi formatif yaitu penilaian yang dilaksanakan pada akhir program belajar mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar mengajar. Adapun fungsi diagnostik dan monitoring adalah penilaian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kelemahan kelemahan siswa dan faktor yang menjadi penyebab serta menetapkan cara untuk mengatasi kesulitan belajar tersebut.

Fungsi surnatif adalah penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit program, dengan tujuan untuk melihat hasil yang dicapai oleh para siswa. Dengan kata lain berfungsi untuk mengetahui seberapa jauh suatu proses pendidikan telah mencapai tujuan yang telah ditentukan.

v Prinsip-Prinsip Evaluasi

Adapun prinsip-prinsip evaluasi adalah:

-          Menyeluruh, yaitu menyangkut pengetahuan, sikap dan nilai, serta kemampuan. Evaluasi bersifat menyeluruh, jika alat evaluasi mencakup aspek proses dan hasil belajar yang dapat menggambarkan perubahan tingkah laku.

-          Berkesinambungan Untuk mengetahui gamabaran tentang perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil kegiatan belajar mengajar hendaknya evaluasi dilakukan secara berencana, bertahap dan berkesinambungan.

-          Objektif Hal ini dapat tercapai apabila langkah-langkah pengembangan alat ukur untuk menilai dilakukan dengan cara yang sistematis dan dengan perumusan criteria keberhasilan yang jelas dan operasional.

-          Mendidik Dalam menilai, guru harus dapat memberikan motivasi pada siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya, penilaian harus bersifat mendidik.

Strategi Pembelajaran

 

Nama: Nikita

Nim: 11901067

Kelas: PAI 4C

Makul: Magang 1

 

Strategi Pembelajaran


v Pengertian Strategi Secara Umum dan Khusus

Istilah Strategi mula-mula dipakai di kalangan militer dan diartikan sebagai seni dalam merancang (operasi) peperangan, terutama yang erat kaitannya dengan gerakan pasukan dan navigasi ke dalam polisi perang yang dipandang paling menguntungkan untuk memperoleh kemenangan. Penetapan strategi tersebut harus didahului oleh analisis kekuatan musuh yang meliputi jumlah personal, kekuatan senjata, kondisi lapangan, posisi musuh, dan sebagainya. Dalam perwujudannya, strategi tersebut akan dikembangkan dan dijabarkan lebih lanjut menjadi tindakan-tindakan nyata dalam medan pertempuran (Abu Ahmadi, dan Joko Tri Prasetya, 1997: 11).

Istilah strategi dewasa ini banyak dipakai oleh bidang-bidang ilmu lainnya, termasuk juga dalam dunia pendidikan. Secara umum strategi mempunyai pengertian sebagai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Kemudian jika dihubungkan dengan kegiatan belajar mengajar, maka strategi dalam artian khusus bisa diartikan sebagai pola umum kegiatan yang dilakukan guru-murid dalam suatu perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan (Abu Ahmadi, dan Joko Tri Prasetya, 1997: 12).

Dalam pemilihan strategi haruslah dipilih strategi yang tepat, pengajaran yang diberikan kepada anak didik tidak bersifat paksaan bahkan perilaku pemimpin kadang tidak perlu dilakukan. Sebagai gantinya, para pendidik harus bersikap ngemong atau among. Para guru seharusnya tidak mengajarkan pengetahuan mengenai dunia secara dogmatik. Sebaliknya mereka hanya berada dibelakang anak didik sambil memberi dorongan untuk manju, secara khusus mengarahkan ke jalan yang benar, dan mengawasi kalau-kalau anak didik menghadapi bahaya atau rintangan. Anak didik harus memiliki kebebasan untuk maju menurut karakter masing-masing dan untuk mengasah hati nuraninya. Dengan demikian tugas pendidik adalah memikirkan dan memilih strategi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik anak didiknya.

Tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan akan dapat tercapai secara berdaya guna dan berhasil guna, maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengatur secara umum komponen-komponen pembelajaran sedemikian rupa sehingga terjalin keterkaitan fungsi antara komponen pembelajaran yang dimaksud.

v Pengertian Strategi Pembelajaran

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bersifat edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antar guru dan anak didik. Interaksi yang bersifat edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaraan dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatu guna kepentingan pengajaraan.

Dalam kamus ilmiah populer strategi mempunyai arti ilmu siasat atau muslihat untuk mencapai suatu tujuan (Pius A Partaaanto dan M. Dahlan Al Barry, 2001: 727). Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai tujuan atau sasaran yang ditentukan (Syaiful Bahri Jamrah dan Aswan Zain, 1996: 5). Dihubungkan dengan proses pembelajaran, strategi biasa diartikan sebagai siasat atau pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiaatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkaan.

(Muhibbin Syah, 2003: 214) Istilah startegi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang tidak sama. Dalam kontek pembelajaran, Nana Sudjana juga mengatakan bahwa strategi mengajar adalah “taktik” yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar (pembelajaran) agar dapat mempengaruhi siswa (peserta didik) untuk mencapai tujuan pembelajaran (TIK) secara efektif dan efesien. (Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, 133).

Hilda Taba menyatakan bahwa strategi pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih oleh guru dalam proses pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan dan fasilitas bagi siswa menuju tercapainya tujuan pembelajaran (Supriadi Saputro, 2000: 21). Sedangkan menurut Slameto strategi adalah suatu rencana tentang cara-cara pendayagunaan dan penggunaan potensi dan sasaran yang ada untuk mreningkatkan efektivitas dan efesiensi dalam kontek ini adalah pembelajaran (Slameto, 1991: 90). Strategi Pembelajaran merupakan garis besar haluan bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dalam arti ilmu dan kiat didalam memanfaatkan segala sumber yang dimiliki dan/atau yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi Pembelajaran adalah metode dalam arti luas yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengayaan, dan remedial yaitu memilih dan menentukan perubahan perilaku, pendekatan prosedur, metode, teknik, dan norma-norma atau batas-batas keberhasilan.

v Unsur-Unsur Strategi Pembelajaran

Agar dapat merancang serta melaksanakan strategi pembelajaran yang efektif perlu memperhatikan unsur-unsur strategi dasar atau tahapan langkah sebagai berikut:

-          Menetapkan spesifikasi dari kualifikasi perubahan perilaku, tujuan selalu dijadikan acuan dasar dalam merancang dan melaksanakan setiap kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu tujuan pembelajaran perubahan perilaku tertentu dan operasional dalam arti dapat diukur.

-          Memilih pendekatan pembelajar, suatu cara pandang dalam menyampaikan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran harus dipertimbang dan dipilih jalan pendekatan utama yang dipandang paling ampuh, paling tepat, dan paling efektif guna mencapai tujuan.

-          Memilih dan menetapkan metode, teknik, dan prosedur pembelajaran. (1) Metode merupakan cara yang dipilih untuk menyampaikan bahan sesuai dengan tujuan pembelajaran (2) Teknik merupakan cara untuk melaksanakan metode dengan sarana penunjang pembelajaran yang telah ditetapkan dengan memperhatikan kecepatan dan ketepatan belajar untuk mencapai tujuan (3) Merancang Penilaian (4) Merancang Remedial (5) Merancang Pengayaan.

v Macam-Macam Strategi

Secara umum strategi pembelajaran dibagi menjadi tiga:

-          Strategi Indukatif adalah suatu strategi pembelajaran yang memulai dari hal-hal yang khusus barulah menuju hal yang umum.

-          Strategi Dedukatif adalah suatu strategi pembelajaran yang umum menuju hal-hal yang khusus

-          Strategi campuran adalah gabungan dari strategi indukatif dan dedukatif. Adapula strategi regresif yaitu strategi pembelajaran yang memakai titik tolak jaman sekarang untuk kemudian menelusuri balik (kebelakang) ke masa lampau yang merupakan latar belakang dari perkembangan kontemporer tersebut.

v Aplikasi Strategi Dalam Pembelajaran

Pada dasarnya tahap-tahap kegiatan mengajar itu mencakup persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut. Sebetulnya strategi bclajar mengajar meliputi seluruh kegiatan/tahapan-tahapan tersebut, tetapi titik beratnya berada (terutama) di tahap persiapan.

a.    Persiapan pengajaran

1)   Perumusan tujuan pengajaran Rumusan tujuan pengajaran merupakan pernyataan tentang apa yang diharapkan untuk diketahui, dilakukan dan dihayati oleh siswa seteiah menyelesaikan suatu kegiatan belajar. Kemampuan yang diperoleh sebagai hasil mengikuti pengalaman belajar, pada hakikatnya perubahan tingkah laku yang dapat diukur atau sekurang-kurangnya ada sesuatu yang dapat dijadikan indikator terjadinya perubahan. Dengan demikian, menurut Muhaimin dkk “merumuskan bahawa tujuan yang akan dicapai adalah merupakan aspek terpenting yang harus diperhatikan dalam mengajar” (Muhaimin, 1996: 78).

2)   Pengembangan alat evaluasi Untuk mengukur keberhasilan pencapaian tujuan pengajaran, disusun alat evaluasi yang sesuai dengan perubahan tingkah iaku. Pada tahap ini dirancang alat evaluasi yang akan digunakan seperti tes lisan, tertulis, perbuatan dan Iain-lain.

3)   Kemampuan yang ingin dicapai sebagai tujuan pengajaran, diurai (dianalisis) atas unsur-unsur tingkah laku yang membentuk kemampuan tersebut. Unsur-unsur yang telah diidentifikasi tersebut diseleksi sehingga unsur-unsur yang belum dikuasai sejalah yang dipilih sebagai bahan pelajaran. Pada tahap ini juga diidentifikasi karakteristik individual siswa seperti: kecerdasan/bakat, kebiasaan belajar, motivasi belajar, kemampuan awal dan kebutuhan belajar siswa, terutarna yang menyangkut kesulitan belajarnya.

4)   Penyusunan strategi belajar mengajar Strategi belajar mengajar pada hakikatnya adalah rencana kegiatan belajar mengajar yang dipilih oleh guru dalam rangka usaha pencapaian tujuan pengajaran yang telah disiapkan. Kriteria efektivitas dan keterlibatan siswa.

b.    Pelaksanaan belajar mcngajar

Tahap ini merupakan pelaksanaan strategi belajar mengajar yang telah dipersiapkan pada tahap sebelumnya:

1)   Pengelolaan kelas: klasikal, kelompok, tim atau yang lainnya. Terrnasuk pengaturan tempat duduk.

2)   Penyelenggaraan tes untuk memperoleh balikan mengenai penguasaan siswa tentang bahan pelajaran terdahulu yang ada hubungannya dengan pelajaran baru.

3)   Penyajian bahan pelajaran sesuai dengan metode dan teknik penyajian yang dikemukakan dalam strategi pembelajaran.

4)   Pemberian motivasi dan penguatan.

5)   Monitoring proses belajar mengajar.

c.    Evaluasi hasil dan program belajar

Tahap kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh balikan tentang hal-hal berikut:

1)   Taraf pencapaian tujuan pengajaran.

2)   Kesesuaian antara metode dan teknik pengajaran dengan sifat bahan pelajaran, tujuan yang ingin dicapai, karakteristik siswa dan kemampuan dasar siswa.

3)   Keberhasilan program dalam mencapai tujuan program.

4)   Keseksamaan alat evaluasi yang digunakan dengan tujuan pengajaran/tujuan program yang ingin dinilai keberhasilannya.

d.   Perbaikan program kegiatan belajar mengajar (tindak lanjut)

Bagi siswa yang gagal mencapai tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan, perlu diselenggarakan pengajaran remedial mengenai aspekaspek, pokok-pokok bahasan dari tugas belajar dan tujuan pengajaran yang belum dikuasai.